Sekeping hati

Ya Ilahi…

Jadikan hati ini hati yang hidup

Yang berjalan bersama kehidupan

Yang melihat dan mendengar

Ya ilahi…

Janganlah jadikan hati ini mati

Lemas dalam kesibukan hidup

Gersang dalam kemarau rohaniah

Kaku dalam kelongsoran jasadi

Hidupkanlah Ya Allah…

Sekeping hatiku yang tersisa ini

Dengan belas kasihmu

Moga menjadi gerbang menuju cinta hakiki

Untuk kehidupan abadi

Disisi-Mu Ya Allah…

Namaku.. Oh namaku…

Image

Yub!”, panggil salah satu temanku. Karena merasa akulah objek sasaran panggilan, aku pun langsung menoleh. Dari arah lain terdengar suara memanggil lagi, “Din!”. Dan panggilan tersebut juga mengarah kepadaku. Wah-wah-wah, berhubung nama panjangku sering nggak muat di daftar nama kelas, maka panggilanku pun juga beraneka rasa se-ulaaika (begitu istilah yang dipakai salah satu ustadzku kalo mo bilang sesuatu yang buanyak). Muhammad Shalahuddin Al-Ayyubi, itulah nama panjangku yang menurutku nggak panjang-panjang amat, panjangan kacang panjang (loh gak nyambung).

Sudah sewajarnya bagi setiap orang mempunyai nama panggilan tersendiri atau favorit atau malah ada yang suka mengubah-ubah nama panggilan di setiap tempat. Kalo aku sendiri terserah yang mau manggil tapi aku lebih suka dipanggil “Ayub” walaupun lebih sering dipanggil “Udin” karena sudah tercatat dalam sejarah kalo ane dipanggil demikian, sedari kecil.
Yubie”. Ini juga merupakan salah satu rasa dalam daftar nama panggilanku. Nama ini kutemukan di kitab Nahwu milik masku, yaitu dari daftar nama sodara yang ia catat di ntu kitab. Langsung ane pakai dalam periode tahun kira2 satu setengah taon, entah di email ato friendster, fb, dalam menamai barang2ku de el el. Tapi nama tersebut terkesan agak gimana begitu, menurutku seperti nama cewek, coz setiap kali ane chatting pake nama ini ane disangka cewek. Huh sebel. Dan sekarang aku jarang pake nama ini.
Panggilan memang mempunyai pengaruh tersendiri pada sang pemilik nama. Panggilan yang baik bisa membuatnya bahagia, seneng dan merasa bangga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memberi Ummul Mukminin Aisyah radliyallahu ‘anha nama panggilan khusus, yaitu “Khumaira’”, dikarenakan Aisyah mempunyai kulit putih kemerah-merahan. Wah besok ane panggil istri ane apa yach?? Sunnah nih… (udah mikir sampe’ sini ternyata…) Ya iyalah…. Ini berarti nama panggilan juga ikut andil dalam keromantisan hubungan rumah tangga, juga dalam keakraban.
Bagiku nama panggilan sangat berarti….

Selamat Hari Iedul Adha…

Yah meskipun dah telat ngucapin selametnya, tak masalah untuk posting tulisan about its….

Ini pertama kalinya ane merasakan iedul adha di tempat yang jaauuuh dari rumah, dan sekaligus menjadi pengalaman tersendiri bagi ane.

Malam ied-nya, temen-temen ane yang di Mahad Al-Islam pada pulang, sedangkan ane tetep disini, purbalingga, hiks… gpp laah.
Dan alhamdulillah mereka nggak pernah melupakan ane, malam itu banyak sms masuk ke hpq n banyak yg call, gantian jadinya…. Subhanallah wal hamdulillah, ane dapat temen2 seperti mereka. Semoga Allah selalu menolong kalian, memudahkan urusan kalian my friends… Amiin

Dan inilah malam takbiran….

Allahu akbar Allahu akbar Allahu akbar…

Laa ilaaha illallahu wallahu akbar…

Allahu akbar wa lillahil hamd…

Subhanallah… gema takbir memenuhi langit yang luas ini……… menentramkan hati yang melantunkannya serta yang mendengarnya (hatinya tentrem krn besok makan daging kale… hehe)…

N pagi yang indah, ane ngantuk berat, coz malamnya ane dapat giliran jaga malem, jaga kambing yang lgi galau haha. Heran dech, masak kambingnya kalo ditinggal sendirian teriak-teriak… ntar kalo ditemenin diem dah…. huh capek ane…. tak apalah, besok kau kan disembelih kambing….
haha, akhirnya ku paksakan untuk menikmati hari yang indah ini dengan membuka mata selebar-lebarnya………. berjuaaang….!!!

ba’da sholat

Read the rest of this entry

Cah Mejitan

“CAH MEJITAN”, begitulah ane dipanggil sewaktu kecil di desaku tempo doeloe. Bukan cuma ane sih, tapi juga para temen-temen seperjuanganku. Panggilan tersebut meluncur dari mulut-mulut beberapa anak desaku, dan juga dari desa sebelah tentunya. Trus gw harus bilang WOW gitu..

Sebuah panggilan bernada mengejek kedengerannya. Panggilan ini menjadi sebutan kami. “mesjit”, nggak tau kenapa bunyinya jadi begini, mungkin maksud mereka “masjid”. Nggak tau kenapa juga mereka aneh-aneh menyebut kami dengan sebutan itu? Mungkin karena kami selalu pergi ke masjid, tapi apa mereka nggak ke masjid, pasti ke masjid kan? Tapi mungkin juga kerena kalo keluar, kita mesti keluar dari masjid, entah together ato dewe-dewe. Nggak setiap waktu kan kalo kita keluar dari masjid. Read the rest of this entry

Qira’atul Kutub

Kegiatan Qiraatul Kutub alias Membaca kitab memang sudah menjadi salah satu sederet kriteria sosok makhluk yang disebut ‘santri’. Tak lepas di ponpes ane dulu juga berlangsung kegiatan satu ini, every day, kulla yaum, kecuali hari libur yaitu Jum’at. . Qiraatul kutub dilaksanakan di maktabah dan diawasi oleh 2 penjaga (siapa tuh?), siapa lagi kalo bukan ustadz atau ustadzah. Tempoe doeloe, sewaktu masih Tsanawi, pada akhir jam, setiap santri diwajibkan merangkum dan menerangkan secara ringkas apa yang dibacanya pada waktu baca tersebut dan akan didengarkan ustadz penjaganya. Dan sekarang baca sendiri, ngrangkum sendiri, ntar nyampe’ di kamar bagi-bagi begitu…. Fonemena yang menghiasi dunia santri yang indah-indah gimana gitu… hehe. Di sini pun juga tak lepas dari kegiatan yang satu ini, bahkan setiap hari, jam, maktabah itu terbuka. Kita boleh membaca kitab kapan saja dimana saja.

Ni foto temen ane di maktabah

Read the rest of this entry

Lembaran baru

yah…. dah sekian lama nyantri di kota Solo, akhernya ane bisa nyantri di tempat lain, dan inilah pertama kalinya ane skolah jaauuuuh dari rumah……

Mulai akhir september kemarin laah ane nyampek di islamic boarding school baruq, yaitu MATQ Elsukhari, Purbalingga

Ane berangkat dari Solo sekitar pukul 8 pagi dan sampai di tempat tujuan sekitar pukul 16.30 laah… yah cukup lama di bus….. lumayan pegel laaah, tapi bisa dijadiin pengalaman tersendiri. Sampai di tempat ana n sohib ane disambut dengan hangat, terlihat beberapa santri menghafal Al-quran di serambi masjid.

Setelah mengisi forulir pendaftaran (padahal udah telat banget hehe, ni kan september sharusnya juni kemaren hehe), kami disuruh istirahat n makan. Besoknya tes hafalan n qiraah kutub arabiyah oleh Ustadz pengampu hafidz dan mudirnya langsung. Read the rest of this entry